Ikuti Kami di :            

Pendidikan Bahasa Arab

Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Jl. Batoro Katong No. 32 Ponorogo, Telp. (0352) 461037

Dua Dosen Linguistik INSURI Kaji Bias Gender dan Seksisme Bahasa Masyarakat Pesantren di UNS

October, 21 2019 07:53
Dua Dosen Linguistik INSURI Kaji Bias Gender dan Seksisme Bahasa Masyarakat Pesantren di UNS
Oleh Humas INSURI Po

Ponorogo (21/10) Dua dosen Linguistik INSURI Wahyu Hanafi dan Rizki Amalia Sholihah sampaikan "Bahasa dan Gender; Bias Komunikasi Seksis Bahasa Asing Masyarakat Pesantren" dalam gelar Konferensi Nasional Bahasa dan Sastra V di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada Sabtu (19/10).

Turut hadir puluhan peserta dari berbagai perguruan tinggi Indonesia ????????. Sebagian diantaranya tergabung dalam Masyarakat Linguistik Indonesia ???????? (MLI). Pembicara utama konferensi ini adalah Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd, Dr. Maman Suryaman, M.Pd, dan Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum.

Menurut Hanafi dan Rizki dengan mengutip teori dari Shan Wareing (1999), bahwa perbedaan bahasa antara pria dan wanita disebabkan karena pemisahan antara pria dan wanita pada tahapan-tahapan penting dalam kehidupan mereka.

Bahasa yang seksis adalah bahasa yang merepresentasikan pria dan wanita secara tidak setara dimana anggota dari kelompok seks yang satu dianggap lebih rendah kemanusiaannya, lebih sederhana, dan lebih sedikit hak-haknya daripada anggota kelompok seks yang lain.

Masyarakat tutur pesantren yang berkomunikasi dengan B2 tampak mengalami perbedaan terutama dalam seksisme bahasa. Pembedaan dan seksisme bahasa masyarakat tutur pesantren memasuki berbagai dimensi;

1). Dimensi wacana. Masyarakat tutur pesantren yang mendominasi B2 dalam pembelajaran bahasa dan komunitas bahasa terutama saat belajar kitab kuning.

2). Dimensi aksen. Komunitas pesantren yang mewajibkan masyarakat tutur berbahasa asing saat berkomunikasi. Dalam hal ini, tampak ketika masyarakat tutur pesantren berkomunikasi bahasa Arab. Bahasa Arab memiliki hierarki maskulinitas-feminitas dalama berbagai variannya.

3). Mitigated form. Dalam lokus ini, seksisme bahasa masyarkat tutur pesantren disaat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler (muhadarah).

4). Aggravated form. Seksisme B2 masyarakat pesantren ditemui saat ada punishme pelanggaran bahasa.

5). Ikonitas. Seksisme bahasa dalam model ikonitas tampak dalam bentuk ikon-ikon yang dipasang di tempat dan fasilitas umum yang ada di pesantren.