Ikuti Kami di :            

Pendidikan Bahasa Arab

Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Jl. Batoro Katong No. 32 Ponorogo, Telp. (0352) 461037

Dosen PBA INSURI Presentasikan Bahasa dan Pergulatan Politik Islam 2019 Indonesia pada Forum Seminar Nasional PPs UINSA

October, 17 2019 17:03
Dosen PBA INSURI Presentasikan Bahasa dan Pergulatan Politik Islam 2019 Indonesia pada Forum Seminar Nasional PPs UINSA
Oleh Humas INSURI Po

Ponorogo (17/10) Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Fakultas Tarbiyah INSURI Ponorogo Wahyu Hanafi memaparkan "Bahasa dan Pergulatan Politik Islam 2019 di Indonesia" pada forum konferensi nasional 2019. Acara dengan tema "Islam, Politik Identitas, dan Tantangan Masyarakat Era Revolusi Industri 4.0" ini digelar oleh Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya pada Rabu (16/10) pagi hari hingga sore di Gedung Twin Towers.

Dalam presentasinya, Hanafi yang kini mengampu mata kuliah linguistik di Prodi PBA INSURI menjelaskan bahwa distagmatisasi sosial di Indonesia dalam kurun empat tahun terakhir (2016-2019) dilalui dengan memanasnya gejala politik. Fenomena ini yang membawa pada politik identitas dan politisasi agama yang berdampak pada perpecahan masyarakat.

Mengutip teorinya Orwell (1950), bahwa bahasa bisa digunakan untuk mempengaruhi dan mengubah ideologi politik yang dapat merubah cara berpikir orang lain. Bahasa-bahasa yang digunakan oleh para elit politik dalam kontesatasi politik elektoral 2019 ternyata mengandung derogasi semantik yang tidak memiliki kesopanan politik.

Dapat dicontohkan ketika kampanye, mobilisasi masa, dan demonstrasi yang dilakukan oleh ormas tertentu menjelang pesta demokrasi elektoral 2019. Penggunaan bahasa verbal dengan ujaran kebencian, hoaks, dan diksi negatif akan memberi dampak terhadap perpecahan masyarakat.

Selain itu, penggunaan bahasa non-verbal seperti maraknya poster, meme, dan tagar-tagar negatif yang mengandung provokasi dan meramaikan media sosial facebook, twitter, serta instagram kini juga cepat memberikan efek komunikasi politik yang kurang sehat.

Eksistensi populisme agama yang dinarasikan dengan bahasa politik Islam kiat mengganggu kesetabilan nasional. Dampaknya, masyarakat menjadi objek material yang mudah diprovokasi dan diadu domba dengan narasi-narasi bahasa negatif.

Solusinya adalah, masyarakat untuk tidak gagap dalam mengujarkan bahasa menjelang demokrasi elektoral 2019. Gunakan bahasa-bahasa positif untuk menarik simpati masyarakat. Masyarakat perlu mencari bukti sebelum meyakini berita-berita negatif.